Pages

Tampilkan postingan dengan label Mountaineering. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mountaineering. Tampilkan semua postingan

Kode Etik Pecinta Alam

  1. Pecinta alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
  2. Pecinta alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kami kepada Tuhan, Bangsa dan Tanah Air
  3. Pecinta alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagai mahluk yang mencintai alam sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa
     Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan sadar menyatakan :
  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan alam sesuai dengan kebutuhannya
  3. mengabdi kepada bangsa dan tanah air
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azaz pecinta alam
  6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah Air
  7. Selesai.
     Disahkan dalam Gladian IV di Ujung Pandang tahun 1974

Salam Juang...! Read more... Serdadu Rimba: Mountaineering

Kode Etik Mountaineering

Pada 15 oktober 1982, UIAA menyatakan beberapa prinsip yang juga terkandung dalam “Deklarasi Kathmandu” mengenai kegiatan pendakian gunung yang isinya :
Tim Ekspedisi harus:
1. Menghormati regulasi negara tuan rumah. Dalam artian sebelum memasuki negara lain, tim ekspedisi telah mengetahui ketentuan dan peraturan pendakian dari negara tuan rumah baik dari segi peralatan dan perlengkapan yang ditetapkan. Tim ekspedisi harus menyiapkan segala aspek dan kebutuhan yang dibutuhkan dalam perjalanan.
2. Menjunjung Deklarasi Kathmandu 1982
3. Menjaga dan merawat sportivitas dengan semangat murni Alpinisme dengan menyatakan bahwa tim ekspedisi akan:
  • Menggunakan logistik dan taktik yang sejalan dengan evolusi modern pendakian Himalayan.
  • Menghindari penggunaan finansial dan material secara berlebihan dari proporsi target.
  • Menolak menggunakan obat-obatan pemicu stamina buatan, walaupun untuk mencapai kesuksesan.
4. Apapun taktik dan strategi yang digunakan, selalu utamakan keselamatan, terutama keselamatan para pengangkat barang dan anggota tim dari negara tuan rumah.
5. Memastikan anggota ekspedisi dari negara tuan rumah memiliki peranan yang cukup dalam aktivitas tekhnikal ekspedisi untuk memulai atau melanjutkan ekspedisi.
6. Setelah ekspedisi selesai, berikan informasi mengenai perkembangan, masalah yang dihadapi, hasil yang didapat dan informasi dokumenter dari ekspedisi secara benar, objektif dan tepat.
7. Menghindari pernyataan yang merubah atau melebih-lebihkan fakta yang ada dilapangan, terutama untuk kebutuhan publisitas di artikel manapun, termasuk media.
8. Membuktikan solidaritas dan kebersamaan, tidak hanya pada antar sesama tim saja, tapi juga pada penduduk lokal dan tim ekspedisi lain yang membutuhkan bantuan.
9. Menjaga dan menghormati perlengkapan dan peralatan tim ekspedisi lain dan menghindari menggunakan peralatan tim lain tanpa seijin mereka.
10. Pada akhirnya, dengan semangat Deklarasi Kathmandu, turun gunung dengan selamat.

Dikutip dari UIAA Advisory Committee and the General Assembly. Marrakesh, 9 Oktober 1987.

Salam Juang...!
Read more... Serdadu Rimba: Mountaineering

Pendakian

Pegunungan dan perbukitan merupakan tempat yang ekstrim. Bagi kita yang terbiasa tinggal pada dataran rendah dibutuhkan adaptasi bagi tubuh agar dapat menyesuaikan diri pada keadaan medan. Pada permukaan 1.500 sampai 2.000 meter diatas permukaan laut, tubuh harus menyesuaikan diri dengan tingkat kadar oksigen yang ada. Pada ketinggian diatas 2.500 meter, tubuh membutuhkan waktu yang cukup untuk beradaptasi pada lingkungan.
Semakin tinggi permukaan, maka semakin rendah kadar oksigen yang terkandung dalam udara. Artinya dalam satu tarikan nafas, kadar oksigen yang dibutuhkan bagi tubuh semakin berkurang. Seperti kita ketahui, oksigen dibutuhkan tubuh untuk membakar kalori sehingga dapat menghasilkan energi untuk menjaga stabilitas organ tubuh, otak, dan pergerakan. Bergerak menuju permukaan yang lebih tinggi secara terburu-buru tanpa melakukan aklimatisasi dapat memicu penyakit ketinggian seperti Acute Mountain Shickness (AMS).
Lingkungan
Lingkungan pada dataran tinggi merupakan lingkungan yang rentan. Kerusakan yang terjadi pada daerah ini dapat berimbas langsung pada daerah dibawahnya. Menjaga dan merawat keadaan agar selalu natural merupakan hal yang wajib dilakukan.
Air. Pada dataran tinggi, air merupakan hal yang sulit didapat. Pastikan kita menghindari tindakan yang dapat mengakibatkan polusi terhadap air.
Makanan. Pada dataran tinggi, mencari makanan merupakan hal yang cukup sulit. Kehati-hatian dan ketelitian dalam memilih makanan merupakan hal yang sebaiknya diperhatikan. Pastikan kita membawa pulang bungkus makanan (terutama bungkus plastik), sehingga tidak mengotori gunung.
Kayu. Kayu merupakan benda berharga. Dengan kayu kita dapat membuat api untuk memasak dan menghangatkan tubuh. Pastikan kita tidak menghamburkan kayu yang tersedia, gunakan secukupnya dan jangan pernah mencabut tanaman atau pohon dari akarnya.
Hewan liar. Beberapa jenis binatang terancam kepunahan,. Menjaga dan membiarkan mereka pada sifat dan habitatnya merupakan tindakan yang sangat bijaksana.
Beberapa daerah di dunia dengan ketinggian di atas 3.500mdpl
Penyakit Pada Ketinggian
Siapa pun boleh mendaki gunung. Namun melakukan latihan intensif agar tubuh terbiasa menghadapi medan yang ekstrim merupakan keutamaan agar kegiatan pendakian dapat berlangsung sukses hingga turun gunung dengan selamat. Selain itu, mengetahui kondisi tubuh merupakan hal wajib sebelum melakukan pendakian.
Kondisi Paru-paru. Kenali kondisi paru-paru kita, latih paru-paru kita secara bertahap sebelum melakukan pendakian. Mendakilah secara bertahap dan tidak terburu-buru. Hindari masalah serius, segera turun gunung jika dibutuhkan.
Asma. Medan gunung yang dingin dapat memicu asma bagi beberapa orang yang mengidapnya. Pastikan kondisi tubuh fit sebelum berangkat. Latih tubuh secara bertahap. Selalu bawa inhaler dalam perjalanan. Ketahui penyebab pemicu asma dan hindari pemicunya dalam perjalanan. Hindari masalah serius, segera turun gunung jika dibutuhkan.
Epilepsi. Pastikan kondisi tubuh fit dan epilepsi tidak akan kambuh setidaknya selama 6 bulan kedepan. Ketahui pemicu epilepsi dan hindari pemicunya dalam perjalanan. Pastikan rekan mengetahui dan mengawasi kondisi kita.
Diabetes. Sebelum berangkat, lakukan tes mata. Jika terdapat gangguan pada mata, hindari bergerak menuju permukaan yang terlalu tinggi. Rencanakan kontrol dan monitor glukosa darah. Perhatikan makanan dan diet. Dalam perjalanan pastikan membawa perlengkapan dan obat untuk memonitor glukosa. Permukaan yang tinggi dapat menyebabkan insulin membeku, tempatkan insulin pada tempat yang terlindung. Hindari infeksi dan cari bantuan secepatnya jika terasa sakit.
Kondisi Jantung dan Tekanan Darah Tinggi. Pastikan kita memeriksa kondisi jantung dan tekanan darah sebelum berangkat. Dalam perjalanan, jika terasa kondisi tubuh menurun, segera turun gunung.
Alergi. Alergi dapat dihindari dengan menyuntikkan adrenalin atau antihistamin sebelum berangkat. Pastikan kita mengetahui pemicu alergi dan menghindarinya.

JENIS PENDAKIAN
Mountaineering merupakan gabungan beberapa jenis pendakian. Kegiatan ini dapat memakan waktu berhari-hari sampai berbulan-bulan. Disamping penguasaan tekhnik pendakian, hal lain yang dibutuhkan adalah adanya manajemen ekspedisi, pengaturan logistik, komunikasi, strategi pendakian dan lain-lain. Berdasarkan medan yang ditempuh, pendakian gunung dibagi menjadi tiga bagian.
Hill walking.
Merupakan perjalanan pendakian bukit atau gunung dengan kemiringan landai tanpa memerlukan peralatan tekhnis khusus dengan jalur atau rute yang sudah tersedia. Perjalanan ini dapat memerlukan waktu beberapa jam hingga beberapa hari. Ketrampilan memilih tempat untuk bivak dibutuhkan. Namun dibeberapa lokasi, basecamp atau bivak sudah tersedia.
Scrambling.
Merupakan pendakian pada permukaan yang tidak terjal, namun tangan digunakan untuk keseimbangan. Bagi pemula, tali sebaiknya digunakan untuk pengamanan sekaligus mempermudah perjalanan.
Climbing.
Merupakan pendakian yang membutuhkan penguasaan tekhnis dan peralatan pendakian. Permukaan tebing dapat memakan waktu beberapa jam hingga beberapa hari.

Salam Juang...!
Read more... Serdadu Rimba: Mountaineering

Klasifikasi Pendakian

Tingkat kesulitan medan yang dihadapi berbeda-beda. Begitu juga tingkat kemampuan individu untuk menghadapinya. Orang yang sering berlatih akan mampu mengembangkan tekhnik-tekhnik yang ada sehingga tingkat kemampuan menghadapi medan akan meningkat.

Klasifikasi pendakian gunung berdasarkan Sierra Club.
• Kelas 1. Perjalanan tegak tanpa memerlukan peralatan khusus.
• Kelas 2. Medan agak sulit sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan penggunaan tangan untuk keseimbangan diperlukan.
• Kelas 3. Medan semakin sulit sehingga dibutuhkan tekhnik pendakian tertentu, namun tali pengaman belum dibutuhkan.
• Kelas 4. Kesulitan bertambah dan tali pengaman dibutuhkan.
• Kelas 5. Rute pendakian tebing sulit, namun peralatan masih berfungsi sebagai pengaman.
• Kelas 6. Tebing tidak lagi memberikan point, celah, rongga dan daya geser sehingga pendakian sepenuhnya tergantung peralatan.

Klasifikasi pendakian gunung berdasarkan Yosemite Decimal System.
• Kelas 1. Perjalanan tegak pada permukan landai dengan sedikit resiko jatuh yang berakibat fatal.
• Kelas 2. Permukaan agak curam dengan kemungkinan cedera akibat jatuh, namun tidak berakibat fatal.
• Kelas 3. Medan lebih curam dari medan kelas 2, namun resiko jatuh belum berakibat fatal, sehingga tali masih belum dibutuhkan.
• Kelas 4. Permukaan lebih curam dan tali sebaiknya digunakan untuk pengamanan. Resiko jatuh dapat berakibat fatal.
• Kelas 5. Termasuk kategori pendakian tebing, membutuhkan ketrampilan dan peralatan sebagai pengamanan. Resiko jatuh dapat berakibat fatal.

Klasifikasi pendakian gunung berdasarkan New Zealand Grading System.
Klasifikasi standard untuk rute alpine pada kondisi normal
• New Zealand Grade 1. Pendakian mudah, penggunaan tali hanya dilakukan pada medan sungai es yang licin.
• New Zealand Grade 2. Pendakian agak curam, membutuhkan tali pengaman pada beberapa lokasi yang cukup licin.
• New Zealand Grade 3. Pendakian curam, memerlukan peralatan tekhnis pada beberapa lokasi. Pendakian es terkadang membutuhkan dua alat pengaman.
• New Zealand Grade 4. Technical climbing, dibutuhkan ketrampilan dalam menggunakan dan menempatkan peralatan pengaman. Pendakian dapat memakan waktu beberapa hari.
• New Zealand Grade 5. Sustained technical climbing, pada beberapa lokasi terdapat permukaan vertikal.
• New Zealand Grade 6. Pendakian permukaan vertikal, dibutuhkan penguasaan tekhnik yang handal untuk menghadapi medan ini.
• New Zealand Grade 7. Permukaan vertikal yang cukup berbahaya dengan sedikit pengaman.

KLASIFIKASI PENDAKIAN TEBING
Menurut tingkat kesulitannya, pendakian tebing dibagi menjadi enam tingkatan.
• Grade 1. Membutuhkan waktu hanya beberapa jam pada bagian yang menimbulkan kesukaran tekhnis.
• Grade 2. Membutuhkan waktu kurang dari setengah hari untuk menempuh bagian yang menimbulkan kesukaran tekhnis.
• Grade 3. Membutuhkan waktu setengah hari untuk menempuh bagian yang menimbulkan kesukaran tekhnis.
• Grade 4. Membutuhkan waktu satu hari penuh untuk menempuh bagian yang menimbulkan kesukaran tekhnis.
• Grade 5. Membutuhkan waktu satu setengah sampai dua hari untuk menempuh bagian yang menimbulkan kesukaran tekhnis.
• Grade 6. Membutuhkan waktu lebih dari tiga hari untuk menempuh bagian yang menimbulkan kesukaran tekhnis.
• Grade 7. Membutuhkan waktu seminggu atau lebih untuk menempuh bagian yang menimbulkan kesukaran tekhnis.

Klasifikasi pendakian tebing menurut Yosemite Decimal System.
• 5.0 – 5.4. Tebing memiliki dua tumpuan untuk tangan dan dua tumpuan untuk kaki dalam melakukan pergerakan.
• 5.5 – 5.6. Tebing memiliki dua tumpuan untuk tangan dan dua tumpuan untuk kaki bagi yang berpengalaman, namun cukup sulit bagi pemula.
• 5.7. Tebing hanya memiliki tiga buah titik tumpuan.
• 5.8. Tebing hanya memiliki dua atau tiga tumpuan yang cukup sulit.
• 5.9. Tebing hanya memiliki satu tumpuan untuk tangan dan kaki.
• 5.10. Tebing tidak memiliki tumpuan, namun masih dapat dipanjat.
• 5.11. Tebing benar-benar tidak memungkinkan untuk dipanjat, namun beberapa orang yang benar-benar terlatih dapat memanjatnya.
• 5.12. Dinding vertikal tegak lurus dengan permukaan licin seperti gelas.
• 5.13. Dinding mengantung (overhang) dengan permukaan licin seperti gelas.

Klasifikasi pendakian berdasarkan penempatan peralatan pengamanan yang digunakan.
• G – Good. Penempatan peralatan pengamanan benar-benar dapat melindungi dengan baik.
• PG – Pretty Good. Peralatan pengaman cukup dapat melindungi pemanjat.
• PG13 – OK Protection. Penempatan peralatan cukup baik. Jika jatuh tidak menyebabkan masalah serius.
• R – Runout. Peralatan pengaman berjarak cukup jauh, jika jatuh kemungkinan dapat menimbulkan masalah serius.
• X – No protection. Berbahaya, jika jatuh dapat menyebabkan kematian.

Klasifikasi pendakian medan es berdasarkan skala numerikal M
• M1- M3. Pendakian tebing mudah, biasanya tanpa membutuhkan peralatan.
• M4. Tebing cukup curam sampai vertikal, membutuhkan peralatan.
• M5. Pendakian tebing harus didukung peralatan.
• M6. Tebing vertikal sampai overhang.
• M7. Tebing overhang.
• M8. Tebing hampir horizontal overhang, yang membutuhkan ketrampilan dan peralatan.
• M9. Tebing overhang dengan jarak dua sampai tiga panjang tubuh pemanjat.
• M10. Tebing overhang lebih dari 10 meter.
• M11. Tebing overhang lebih dari 15 meter.
• M12. Sama dengan M11 namun dengan terdapat penghalang yang membutuhkan tekhnik khusus dalam bergerak.

Klasifikasi pendakian medan es berdasarkan skala numerikal WI
Skala numerikal WI merupakan skala pendakian pada permukaan es (Water Ice)
• WI2. Permukaan dengan kemiringan kurang dari 60 derajat dan dapat ditempuh dengan menggunakan satu buah ice axe.
• WI3. Permukaan dengan kemiringan 60 sampai 70 derajat dengan beberapa permukaan vertikal berjarak 4 meter.
• WI4. Permukaan hampir vertikal dengan jarak mencapai 10 meter, dan membutuhkan peralatan pengaman.
• WI4+. Sama dengan WI4 namun dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
• WI5. Permukaan hampir vertikal atau vertikal dengan jarak mencapai 20 meter, dan membutuhkan beberapa jenis peralatan pengamanan.
• WI5+. Sama dengan WI5 namun dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
• WI6. Permukaan vertikal dengan jarak 30 sampai 60 meter. Membutuhkan tekhnik pemanjatan dan stamina yang baik.
• WI6+. Permukaan vertikal atau overhang dengan jarak 30 sampai 60 meter.
• WI7. Permukaan overhang yang berbahaya.

Klasifikasi pendakian berdasarkan Original Grading System
• A0. Free climbing tanpa membutuhkan peralatan pengaman khusus.
• A1. Membutuhkan pengaman khusus, pengaman mudah ditempatkan dengan solid.
• A2. Peralatan pengaman dapat ditempatkan dengan baik, pada beberapa point mudah lepas.
• A3. Kesulitan bertambah dan pada beberapa point pengaman hanya dapat menahan beban tubuh, namun resiko masih rendah.
• A4. Berat tubuh tidak dapat tertahan dengan baik oleh pengaman, sehingga pengamanan biasanya dibuat berjajar.
• A5. Berat tubuh tidak dapat tertahan dengan baik oleh pengaman, kemungkinan dapat mengakibatkan resiko jatuh sampai 20 meter.

Salam Juang...!
Read more... Serdadu Rimba: Mountaineering

Perlengkapan Khusus

Pendakian tebing
• Tali kernmantel 
Tali berfungsi sebagai pengaman apabila jatuh. UIAA, induk organisasi pendaki gunung dunia telah menetapkan standar tali yang laik pakai pada prosedur pemanjatan berdasarkan uji kekuatan. Panjang tali dalam pemanjatan dianjurkan 50 meter, karena pada jarak itu leader dan belayer masih dapat berkomunikasi. Tali kernmantel terbagi dalam dua jenis :
Static rope atau tali statis memiliki kelenturan 2 sampai 5% dari berat maksimum yang diberikan dan bersifat kaku. Umumnya tali statis berwarna putih atau hijau. Tali ini biasa digunakan untuk rapelling dan caving.
Dynamic rope atau tali dinamis memiliki kelenturan 5 sampai 15% dari berat maksimum. Karna sifatnya yang fleksibel tali ini sering digunakan untuk pemanjatan tebing.
• Harness
Harness berfungsi sebagai penghubung antara tali dan tubuh pemanjat.
Seat harness dipakai untuk menahan gaya berat pada bagian pinggang dan paha
Full body harness dipakai untuk menahan gaya berat pada dada, pinggang, punggung dan paha.
• Helm
Helm digunakan sebagai pelindung kepala dari kemungkinan cidera terbentur dan reruntuhan.
• Carabiner
Carabiner atau snaplink berfungsi sebagai pengait sekaligus peredam gesekan tali. Carabiner terbuat dari bahan allumunium alloy yang kuat. Carabiner dibagi menjadi dua jenis, carabiner screw gate memiliki kunci pengaman pada pen pengaitnya, dan carabiner non screw gate tidak memiliki pengaman.
• Sling
Sling biasanya terbuat dari tabbular webbing. Fungsi sling sangat luas sebagai penghubung, mengurangi gesekan dan gaya beban pada chock atau piton yang tertanam, memperpanjang point, dan dapat digunakan untuk membuat natural point dengan memanfaatkan pohon dan celah bebatuan
• Descender
Descender atau figure eight biasanya sering dipakai untuk rapelling. Dan dapat digunakan oleh belayer untuk membantu menjaga leader, untuk belay teknik penggunaannya berbeda dengan penggunaan untuk rapel. Masih ada pemanjat-pemanjat yang menggunakan setup rapel dengan figur eight untuk belay yang biasa disebut sport belay. Saat ini bentuk descender sudah dikembangkan sedemikian rupa.
• Ascender
Ascender merupakan alat yang terbuat dari allumunium alloy berbentuk seperti catut yang dapat menggigit apabila diberikan beban kebawah dan akan terbuka bila tidak ada beban/ditarik ke atas. Alat ini sering digunakan untuk membantu meniti tali pada dinding overhang.
• Piton, bolt, chock, nuts, cam, hexes
Merupakan alat untuk membuat pengaman buatan (artificial anchor) pada lintasan apabila pemanjat jatuh dapat tertahan oleh pengaman.
• Grigri, belay spring, belay tubular, trango cinch, sirius tre
Merupakan alan bantu belayer untuk membelay leader.
climbing gearice axe and crampon
Pendakian es
Pada medan es dan salju, selain peralatan pendakian biasa juga digunakan ice axe dan crampon.

Salam Juang...!
Read more... Serdadu Rimba: Mountaineering

Perlengkapan dan perbekalan

Keberhasilan sebuah kegiatan alam bebas juga ditentukan oleh perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan cukup. Perlengkapan dan perbekalan yang dibutuhkan untuk kegiatan pendakian mungkin akan sedikit berbeda dengan perlengkapan dan perbekalan penjelajahan hutan. Begitu juga kebutuhan perlengkapan bagi tiap-tiap individu juga akan berbeda-beda.

Dalam merencanakan kebutuhan perlengkapan dan perbekalan, yang perlu diperhatikan adalah :
•    Jenis medan yang akan dihadapi
•    Tujuan kegiatan
•    Lamanya kegiatan
Selain itu, perlu juga diperhatikan kekuatan fisik dalam membawa beban perlengkapan, logistik, dan kebutuhan lain.

PERLENGKAPAN DASAR
Perlengkapan dasar adalah perlengkapan yang sebaiknya harus ada, seperti :
Sepatu
trekking bootSepatu merupakan hal yang wajib jika kita ingin menghadapi medan gunung hutan. Selain sebagai alas yang membantu kenyamanan berjalan, sepatu juga menjadi pelindung kaki. Sepatu combat boot atau sepatu trekking  merupakan jenis sepatu yang cukup baik untuk menghadapi medan ini.
Hal yang harus diperhatikan dalam memilih sepatu adalah :
•    Kuat, sesuai dengan bentuk dan ukuran kaki
•    Melindungi jari, alas kaki, sendi, dan mata kaki
•    Memiliki bentuk sol yang dapat menggigit ke segala arah
•    Nyaman dipakai

Kaus Kaki
Selain sebagai perlengkapan sepatu agar kulit tidak bergesekan langsung dengan sepatu, kaus kaki juga dapat digunakan untuk menjaga suhu kaki agar tetap stabil dalam menghadapi suhu yang ekstrim. Harap di ingat, “kaus kaki harus selalu kering”.

Pakaian Perjalanan
Pada medan gunung dan hutan, pakaian yang sebaiknya digunakan adalah pakaian yang dapat melindungi seluruh tubuh dari kemungkinan cidera akibat duri atau tumbuhan beracun. Penggunaan celana dan baju panjang dari bahan katun yang kuat sangat dianjurkan. Selain mampu melindungi kulit, pakaian sebaiknya juga tidak mengganggu gerakan tubuh. Pakaian tambahan seperti topi, sarung tangan dan ikat pinggang sebaiknya dipilih dari bahan yang kuat dan ringan.

Ransel
Ransel yang ringan, kuat dan nyaman dipakai merupakan pilihan terbaik untuk membawa perlengkapan dan logistik dalam kegiatan. Harga yang mahal bukanlah jaminan. Pilihlah ransel yang bentuk dan ukurannya sesuai dengan kebutuhan dan kekuatan tubuh.

rucksackransel
Belati
bowie knifeBelati merupakan peralatan penting yang harus kita miliki dalam kegiatan alam bebas. Pilihlah belati yang dapat digunakan untuk memotong, menyayat dan menusuk. Pastikan belati selalu tajam dan kuat. Belati jenis bowie dapat jadi pilihan.
Selain belati kita juga dapat membawa golok tebas untuk keperluan menjelajah rimba.

PERLENGKAPAN NAVIGASI
Melakukan perjalanan dengan peralatan yang mendukung merupakan tindakan yang sangat baik dan bijak. Peralatan navigasi seperti kompas arah, peta topografi, protractor dan pensil merupakan hal yang sudah sepantasnya ada dalam perlengkapan perjalanan kita. Harap diingat, alam liar merupakan medan yang ekstrim. Kondisi dan keadaan medan gunung hutan dapat berubah dengan cepat. Sebagai contoh, jalan setapak didalam hutan dapat hilang hanya dikarenakan hujan saja. Jangan pernah meninggalkan peralatan ini meskipun kita telah mengenal dan hapal betul alam yang akan kita jelajahi.

PERLENGKAPAN MAKAN
Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh mahluk hidup. Peralatan masak seperti nesting, sendok, peples/cangkir sebaiknya juga ada dalam perlengkapan kita.

PERLENGKAPAN ISTIRAHAT
tendaMelakukan kegiatan di alam bebas merupakan hal yang cukup menguras tenaga. Istirahat dan relaksasi yang memadai merupakan salah satu faktor penunjang kesuksesan kegiatan. Selain sebagai tempat istirahat, tenda juga dapat menjadi isolator atas suhu dan cuaca yang ekstrim di alam bebas. Pilihlah tenda yang dapat melindungi tubuh dari cuaca dan kemungkinan gangguan binatang, seperti serangga dan ular. Tenda jenis tenda dome merupakan jenis tenda yang cukup baik. Namun bila tidak ada, kita dapat menggunakan tenda segitiga yang dimodifikasi sehingga dapat cukup melindungi. Pemilihan warna juga dapat dijadikan faktor, pilihlah tenda dengan warna terang dan cerah. Selain mudah dilihat, pada alam seperti hutan, penggunaan warna terang dapat membantu menjauhkan binatang buas. Pada kondisi mendesak seperti survival, kita dapat membuat tenda dari ponco, plastik, terpal dan material lain.
Perlengkapan yang sebaiknya ada ialah :
•    Tenda
•    Sleeping bag / sleeping mat

PERLENGKAPAN TAMBAHAN

Perlengkapan ini walaupun bukanlah merupakan hal yang wajib, namun ada baiknya kita membawanya untuk menambah kenyamanan perjalanan.
Putis. Yaitu pembelat betis yang terbuat dari kain katun/wool. Pengembara, pejalan kaki, atlit dan tentara biasanya menggunakan putis untuk menjaga otot kaki agar tetap fit dalam perjalanan.
gaitersGaiters. Gaiters merupakan sarung yang melindungi kaki sampai lutut agar pacet, debu dan air tidak masuk kedalam sepatu dan kaki. Gaiters untuk pendakian gunung dan penjelajahan hutan biasanya terbuat dari bahan nylon. Gaiters khusus untuk menghindari gigitan ular terbuat dari kulit.
Kelambu. Pada perjalanan penyusuran hutan dataran rendah dan rawa, membawa kelambu dapat menambah kenyamanan kita agar tidak terganggu oleh nyamuk dan kemungkinan malaria dan demam berdarah.
Kupluk. Kupluk atau balaclava dapat melindungi kepala dari terpapar cuaca dingin secara langsung. Pada daerah seperti gunung, memakai kupluk terbukti cukup ampuh menjaga suhu tubuh.
Kacu segitiga. Kain bandana atau slayer merupakan benda yang yang multifungsi. Selain sebagai penutup kepala, penutup telinga dan penyeka keringat. Kain ini dapat digunakan untuk membalut.

Perlengkapan pribadi. Jelas perlengkapan ini untuk perlengkapan pribadi. Seperti jarum, benang, obat-obatan, tali tubuh, handuk, sikat gigi, sabun dan pakaian dalam.

Salam Juang...
Read more... Serdadu Rimba: Mountaineering